[CERPEN] IMAJI SECANGKIR KOPI
RASTY DI CAFE JO adalah keharusan. Sama seperti ketika perempuan itu pergi ke sisi lain kota setiap minggunya untuk mengunjungi orang tua, ke-ha-rus-an. Di hari sabtu, di jam dua siang, ketika cafe itu lengang, maka perempuan itu akan datang sembari menghapit laptop berwarna hitam, dan duduk di sudut cafe itu selama berjam-jam hingga sore menjelang. Mengais inspirasi, katanya (ketika itu ia seorang penulis novel, di lain waktu ia seorang pegawai kantor yang sibuk). Atau terkadang hanya sekadar berdiam diri sembari menghitung bus antar-kota yang lewat di jalan raya di depan cafe itu sementara laptop ia biarkan menganggur.
Jo, si pemilik cafe, biasa datang dengan secangkir kopi panas pesanan menghampiri perempuan itu. “Ngelamun terus, Bo! Kesambet baru tau rasa Lo,” katanya berbasa-basi, meski Jo sebenarnya tahu betul bahwa Rasty tidak benar-benar melamun. Jo menaruh kopi Rasty di meja di depan perempuan itu lalu pergi. Tak ingin mengganggu.
Dan Rasty membalasnya hanya dengan senyum paling manis. Begitu.
Lima menit berselang dan tak satupun kisah melintas di kepala Rasty. Rintik-rintik hujan mulai jatuh di luar sana. Rasty bergeming. Tak satupun kisah melintas. Seorang pemuda berlari cepat mencari tempat berteduh di kejauhan.
10 menit.
Rasty menyeruput kopi yang disuguhkan Jo si pemilik cafe yang mulai mendingin. Dan lelaki itu mewujud di muka pintu dalam keadaan basah. Basah kuyup. Hujan di luar begitu deras. Cafe Jo seperti biasa sepi di jam segini. Mobil di luar begitu banyak dan Rasty sempat menghitung yang melintas. Lelaki itu tak sempat mencari Rasty di cafe kecil itu tapi sudah menemukannya di mejanya. Senyum mengembang di bibir si lelaki. Matanya berkilat-kilat penuh ambisi kemudian buru-buru menghampiri Rasty.
Lelaki itu mendekat. Tubuh Rasty bergetar. Imajinasinya mengembang.
Tiba-tiba...
Zack si lelaki sempurna idaman kaum hawa. Ketiknya. Zack si lelaki ganteng, penuh ambisi, keras kepala namun aku menyukainya.
"Hai, kita ketemu lagi sepertinya." Sapa si lelaki.
Rasty kokoh pada pekerjaannya tapi tetap menyahut, "Hmm, sepertinya?”
"Kau sendirian? Lagi?" Tanya si lelaki, lagi.
"Ya. Kenapa?"
"Ah, tidak... Rasanya tidak pantas wanita secantikmu selalu sendirian," kata si lelaki seraya tersenyum menggoda. "Mana pacar atau gebetan atau apalah kamu itu, hn?"
Rasty sedikit tertawa. "Keke, kau bertanya seolah kau tak tau, Zack."
"Apa memangnya yang kutahu, sayang? Kalau kau ini jomblo senior? Ups"
Mendengar itu, Rasty langsung saja cemberut. "Bukan jomblo. Tapi single."
"Itu sama saja buatku."
"Tentu saja itu berbeda."
"Ah, memang dimana bedanya? Coba kutanya?"
Rasty terdiam. Menyeruput kopinya kembali.
"Kau sendirian. Setiap minggu. Kau selalu kesini. Aku sampai hafal jadwalmu," tembak Zack. "Memang kau tak iri dengan pasangan-pasangan di sekelilingmu?"
Rasty sedikit terusik dengan apa yang Zack katakan. "Untuk itulah kau datang," kata perempuan itu cepat.
"Untuk apa? Menemanimu? Maaf saja. Ini mungkin saja kebetulan."
"Kebetulan lain setelah kebetulan-kebetulan kemarin dan lusa. Maaf saja, kali ini aku takkan mudah dibohongi."
"Hmm... itu... Yah, Mungkin saja. Haha," kali ini Zack tak bisa mengelak.
Kemudian hening diantara mereka.
Lama. Sebelum tiba-tiba Rasty berkata,
"Sejujurnya aku memang kesepian."
Zack memandang perempuan itu.
"Makanya carilah pendamping. Aku tak bisa terus menemanimu," kata lelaki itu serius, "Kau tahu aku hanyalah imajinasi yang kau ciptakan untuk selalu menemanimu. Kau tidak bisa terus-menerus memanggilku. Kau bisa gila."
Rasty kemudian memandang Zack lama. Menandaskan kopinya yang tinggal sedikit. Dan tiba-tiba lelaki itu menghilang, menghilang seperti debu yang dihempaskan angin. Yah, menghilang karena nyatanya lelaki itu hanya imajinasi Rasty.

Komentar
Posting Komentar