[CERBUNG] Cermin Emas bagian 2
Tetapi, semakin lama aku melangkah, semakin juga aku merasa jika tatapan mereka itu berbeda dari biasanya. Dan pastinya itu membuatku risih dong. Ada apa sih? Terlebih lagi ketika aku memasuki kelas, aku melihat Laura dan Gina juga menatapku dengan tatapan yang sama.
Aku mengerutkan alis lalu bertanya pada dua sahabatku itu, "Apa sih Ra, Gi?"
Laura yang sudah biasa menjadi juru bicara kami pun bicara, "Gue nggak tahu, Lec. Elo... Lo keliatan beda banget. Bener nggak sih, Gi?"
Gina mengangguk. "Iya. Aku juga ngerasa gitu. Tapi, apa yah?" kata Gina sambil menatapku lagi, menyelidik.
Aku yang dipandangi seperti itu oleh Gina jelas risih. Lalu aku teringat keadaanku tadi malam dan buru-buru menjawab, "Oh, mungkin itu karena muka gue pucat, kali. Hari ini gue memang kurang enak badan, sih," kataku sambil duduk di bangku kosong di depan bangku Laura Gina. Kedua sahabatku masih memandangiku dengan pandangan menyelidik. Lalu, kudengar Laura tiba-tiba menyanggah.
"Bukan itu," katanya, membuatku heran.
"Terus apa dong?"
"Lo... Keliatan lebih cantik."
"Gue, apa? Baru sadar ya? Gue 'kan emang cantik," aku menjawab apa yang ada diotakku tanpa berpikir lebih dulu, mungkin terlalu narsis. "Gue kan harus lebih menarik dari kalian berdua. Gue ‘kan ketua LLG. Nggak boleh dong ketua kalah sama anggotanya,” lanjutku benar-benar tanpa dipikir. Aku melihat Laura memutar bola matanya bosan lalu manyun.
"Ya nggak usah sombong gitu dong,"
"Gue nggak sombong kok, cuma ngingetin aja. Buktinya, mantan gue lebih banyak dari kalian berdua, 'kan?" kali ini aku benar-benar niat banget buat sombong.
Tetapi Laura akhirnya menyerah juga. “Iya, iya deh. Tapi serius, Lec, lo hari ini cantik banget tauk. Lo pake apa sih? Susuk ya?”
Mendengar itu, aku langsung menatap Laura sebal. “Sembarangan Lo! Lagian, memang masih jaman ya pake-pake begituan,” kataku, “Udahlah. Gue mau pinjam pr Biologi. Jangan bohong kalian. Gue tahu kalian udah ngerjain.”
Aku mencari buku yang seharusnya aku simpan di tasku ini, tetapi, yang kutemukan malah sebuah cermin. Cermin tangan dengan bingkai kelabang-kelabang yang melingkarinya berwarna emas. Ah, aku ingat, ini cermin yang kemarin aku dapat dari nenek di toko antik itu, yang aku taruh di tas dan lupa mengeluarkannya.
Aku mengeluarkan cermin itu dan mengaca sebentar. Tersenyum dan memuji-muji diriku sendiri yang tampak sangat cantik. Narsis.
"Itu cermin Lectra? Tumben dia suka yang begituan."
Aku menatap pada Gina yang berbisik-bisik membicarakanku. Tetapi aku bisa mendengarnya dengan jelas. "Bukan. Rencananya sih gue mau kasih cermin ini ke Auntie gue. Mana prnya?"
"Nih,"
Ketika istirahat, aku, Laura dan Gina seperti biasanya menghabiskan waktu di kantin dengan makan bakmi, ditambah gorengan dan teh manis favoritku. Sama sekali enggak ada persiapan saat kak Ryan, pacarku sekaligus alasan aku berbohong pada Mami pagi ini, beserta kawan-kawannya bergabung dan langsung mencomot gorengan kami hingga tandas. Habis tak bersisa. Lalu menatap kami seolah mereka enggak berbuat salah.
“Hai, Lec, nanti sore gue jemput ya?” kak Ryan berkata padaku tanpa basa-basi. Sambil duduk di depanku dengan gaya santai, dia melahap gorengan yang tersisa di tangannya dengan rakus.
Tetapi perkataan kak Ryan itu berefek besar padaku hingga membuat aku tersedak. “Mau apa?” aku bertanya.
“Malam mingguan lah, kita 'kan belum pernah malam mingguan bareng,” jawab kak Ryan cepat, membuat aku hampir berpikir jika ini mimpi.
"Serius?" aku melihat kak Ryan menggangguk. Dan itu membuatku senang bukan main.
Diam-diam aku melirik kedua sahabatku yang memasang muka dongkol, dan aku tertawa dalam hati. Pasti mereka iri banget mendengar kak Ryan mengajakku jalan bareng malam ini. Selama ini kan, mereka berdua yang sudah mati-matian mengejar kak Ryan, eh malah aku yang dapat hasilnya.
Yah, mau bagaimana lagi, pesonaku memang enggak bisa ditolak.
“Cuma Lectra nih yang diajak?” aku mendengar Laura bertanya sinis, membuat aku hampir saja mengeluarkan suara tawaku. Dan kak Ryan punya jawaban bijak untuk menjawab pertanyaan Laura itu. Yah, bijak buatku sih.
“Sorry, Ra, kali ini gue cuma mau ngajak Lectra. Maukan, Lec?”
“Jam berapa?”
“Tujuh.”
Aku mengangguk-angguk. “Okedeh.”
Dan sepanjang hari itu aku enggak bisa berhenti tersenyum-senyum sendiri selayaknya orang gila. Bahkan ejekan Laura dan Gina sekalipun, enggak mampu membuatku ‘waras' kembali.
Jam 18.30.
Malam ini aku merasa kepercayadirianku berkurang drastis. Lectra yang biasanya selalu percaya diri ini, tiba-tiba merasa dirinya enggak cukup cantik untuk bisa jalan bareng kak Ryan. Yah, wajar sih, kak Ryan kan ganteng banget. Sedangkan aku, seandainya saja aku ini bukan Lectra, maksudku, seandainya penampilanku tidak benar-benar keren, mungkin aku sudah dikatai itik buruk rupa yang sok jadi angsa. Tuh kan, aku mulai rendah diri lagi.
Aku memutar-mutar tubuhku di depan cermin. Walau sudah memakai dress terbaik yang aku punya, tetap saja aku kurang merasa puas. Aku harus menatap bayanganku sendiri setiap detiknya. Dan tetap enggak ada yang berubah. Benar-benar deh, itu bukti kalau kepercayadirianku sedang ada di batasnya sekarang.
Drrt Drrt Drrt. Tiba-tiba ponsel yang aku taruh di atas kasur bergetar. Aku berjalan mendekat dan mengambilnya. Melihat nama yang tertera; Laura. Lalu tersenyum lebar.
“Halo, Ra,”
“...”
Dan percakapan kami berdua mengalir begitu saja. Laura bertanya dan aku menjawab, sesekali tertawa geli setiap kali Laura melempar pertanyaan yang lucu. Enggak lucu sih cuma aku yang berpikir begitu.
"Ya jadi dong. Iya, bentar lagi kak Ryan jemput gue kok,"
Enggak lama, suara Laura tiba-tiba hilang dan berganti dengan suara gemerisik yang jelek banget. Aku merutuk, lagi-lagi sinyal terputus.
“Halo,” aku mencoba mendengar suara Laura kembali, tetapi sia-sia. “Halo, Ra.”
Dan ketika ini, tahu enggak, tiba-tiba telingaku menangkap sebuah suara, entahlah, seperti suara gamelan dari ruangan sebelah, membuat aku terdiam seperti patung. Tiba-tiba tubuhku merasa merinding. Setahuku, kami enggak memiliki gamelan di rumah ini, deh. Kami memang menyukai musik, tetapi kami menyukai musik yang berbeda. Hanya aunt Liliana yang mungkin saja mengoleksinya.
Mungkin enggak sih Mami meminjam gamelan koleksi auntie? Lalu memainkannya di jam seperti ini? Sepertinya enggak. Mami pasti sedang menyiapkan makan malam di dapur.
Aku berusaha cepat-cepat keluar dari kamarku ini ketika, aku enggak sengaja melihat cermin emasku di meja menampilkan sesuatu. Bukan, bukan bayangan apapun yang ada di depannya, tetapi... Bayanganku? Bagaimana yah, bayanganku tetapi bukan aku yang ada di kamar ini.
Aku seolah terpaku di tempat, enggak bisa bergerak. Dan seseorang, atau sesosok, sepertinya berdiri di belakangku dan bergerak-gerak halus seolah dia sedang menarikan tarian dengan tempo lambat, napasnya mengenai tengkukku dan membuat aku bertambah merinding.
Tetapi, Aku mencoba melihat apa yang hendak cerminku perlihatkan padaku. Dan lalu aku melihatnya, sesuatu yang aneh banget. Mengerikan. Aku menutup mulut enggak percaya beberapa detik sesudah itu.
Enggak mungkin... Itu enggak mungkin terjadi!
Bagaimana bisa, sebuah cermin memperlihatkan bayangan yang begitu mengerikannya seperti ini? Bayangan kejadian yang sama sekali enggak bisa diterima akal sehat, tetapi membuatku sangat takut.
Ada seseorang, itu aku, dengan sebilah pisau tajam mengkilat-kilat.
Lalu, sepasang cewek dan cowok di sebuah tempat.
Aku mendekati mereka, dan... mereka berdarah-darah!
Kejadiannya begitu cepat hingga aku tidak menangkapnya secara jelas. Tetapi, aku yakin semua orang dapat menyimpulkannya sama sepertiku sekarang. Cermin itu menunjukkan jika, aku ini seorang pembunuh! SEORANG PEMBUNUH?! Itu enggak mungkin, kan? Itu enggak mungkin karena aku bahkan enggak berani sekalinya melihat darah. Aku...
Suara motor berhenti di halaman rumah membuat aku kembali pada kesadaranku. Bersamaan dengan itu, semuanya yang terjadi tadi kembali normal. Aku merasakan keheningan kamarku kembali, di tengah jantungku yang masih berdebar-debar. Mengambil napas sejenak, sebelum buru-buru menutup cerminku dan menyimpannya di laci paling bawah. Aku enggak mau melihatnya lagi. Hii...
Aku memperbaiki riasanku dan berusaha melupakan kejadian barusan sebelum turun menyambut kak Ryan di depan pintu. Di saat itulah, senyuman usil Mami terlebih dulu menyambutku.
“Mi, Lectra jalan, ya?” aku berkata, tetapi mami masih setia dengan senyum usil itu, membuatku ilfeel. "Ih, Mami apaan sih? Nggak jelas banget tahu. Yaudah, kalo gitu Lectra langsung pergi aja deh," tanpa menunggu jawaban Mami, aku langsung melenggang pergi.
"HATI-HATI, ANAK MAMI YANG PALING CANTIKK!!"
Aku mengabaikan teriakan Mami yang dirasa lebay. Dalam hati berkata, ya iyalah paling cantik. Orang aku kan anak tunggal, cewek, dan satu-satunya lagi.
• • •
Bersambung...

Komentar
Posting Komentar