[CERBUNG] Cermin Emas bagian 3 - end
Malam ini, buatku adalah malam yang sangat romantis. Sebelumnya aku enggak pernah membayangkan akan jalan berdua saja bersama kak Ryan, meski aku sudah menjadi pacarnya sekalipun. Mengingat kak Ryan itu orangnya cuek banget. Ah, dia memintaku menjadi pacarnya saja sudah mengejutkanku dan semua orang. Apalagi sekarang, mengajak jalan berdua? Dasar cewek beruntung. Tetapi...
Aku melihat jalanan kota yang sudah sepi. Ini sudah malam banget dan kak Ryan enggak juga membawaku pulang. Aku jadi mengkhawatirkan Mami.
“Kita kemana lagi?”
Enggak lama setelah aku menanyakan itu, kak Ryan menghentikan motornya di depan sebuah tempat karaoke. Aku mengerutkan kening heran. Aku enggak tahu mengapa dia berhenti di sini tetapi aku memiliki firasat buruk. Ini bukan tempat karaoke biasa. Dan aku enggak mau ada di tempat seperti ini.
"Ngapain kita kesini sih? Aku nggak suka ya kak,"
"Udah deh, Lec. Ikut aja. Aku mau ngasih surprise,"
Bodohnya, Aku sudah terlanjur percaya sama kak Ryan. Karena selama ini, meski dia cuek, dia enggak pernah berbuat sesuatu yang melukaiku.
Aku mengikuti kak Ryan memasuki sebuah ruangan dengan gemerlap lampu tetapi bukan deskotek. Ini ruang karaoke kok, yang di desain menyerupai deskotek. Dan aku enggak pernah tahu jika kak Ryan sering main ke tempat seperti ini. Aku merasa enggak nyaman. Aku mau pulang.
“Kak...”
Ucapanku menggantung karena saat itu aku melihat semua mantan-mantanku, yang dulu pernah aku putusin dengan keji, dan Laura juga Gina berkumpul. Perasaanku mulai enggak enak sekarang. Ada apa sih ini?
Aku menatap kak Ryan menuntut penjelasan. “Ada apa ini, kak?” tanyaku menuntut.
Lalu, tanpa aba-aba, kak Ryan tahu-tahu sudah memegang tanganku. Lembut banget. Tatapannya sejenak membuat aku meleleh tetapi, detik berikutnya, perkataannya yang lain membuat duniaku seolah hancur.
"Lec, kita putus aja ya?"
Aku menatap kak Ryan yang sepertinya enggak merasa bersalah sedikitpun dengan muka seperti orang tolol. Lalu melihat mantan-mantanku yang tertawa puas setelahnya, juga Laura, sepertinya dialah yang paling puas di antara semuanya. Jadi, ini maksudnya? Kak Ryan menjadikan aku pacar bukan karena dia menyukaiku tetapi... Untuk sekadar taruhan?
“Sebenarnya gue udah jadian sama Laura duluan sebelum elo. Dan lo taulah, gue dan elo itu cuma... main-main,”
Jlebb
Aku enggak menyangka kak Ryan tega mengatakan itu. Dan lebih enggak menyangka lagi mengetahui fakta bahwa kak Ryan dan Laura ternyata bersama-sama membohongiku. Laura?
Aku menatap mereka berdua dengan pandangan terluka. Lalu pergi dengan perasaan enggak menentu.
Di rumah, ada Mami dan Papi yang menyambutku dengan perasaan khawatir mereka. Aku enggak bisa berbohong, tetapi malam ini aku akan mencoba sebisanya untuk berbohong. Aku tersenyum pada Mami dan Papi untuk menyembunyikan apa yang barusan aku alami. Seperti biasa Mami selalu mencercaku dengan berbagai pertanyaan khawatir. Yang lalu aku jawab dengan baik-baik saja.
Setelah semuanya dirasa aman, aku pun langsung masuk ke kamarku dan merenung. Memikirkan apa yang sudah Kak Ryan dan Laura lakukan padaku malam ini. Dan berakhir dengan rasa marah. Oke, aku ini memang terkadang bersikap menyebalkan pada Laura dan Gina, tetapi, apa harus di balas dengan cara seperti ini?
Egoku yang begitu kuatnya enggak akan pernah terima perlakuan seperti ini. Aku meremas bantal, mengutuk, sebelum akhirnya jatuh terlelap dengan perasaan marah yang mendalam.
• • •
Minggu, 17 Januari 2016
Keesokan harinya sesuatu terjadi tanpa aku sadari. Tahu-tahu tanganku dipenuhi noda merah yang menjijikan banget. Aku mencium tanganku yang bau sebelum memutuskan untuk berlari ke kamar mandi dan mencuci tangan.
Oh ya, malam ini aku bermimpi aneh. Saking kesalnya pada kak Ryan dan Laura, aku sampai-sampai bermimpi sudah menikam mereka berdua dengan pisau. Padahal aku sudah bilang kan kalau aku takut banget sama darah? Pagi ini aku terbangun dengan kepala pusing. Aku berniat mengambil air minum di dapur ketika tiba-tiba aku mendengar suara Mami membentak seseorang.
“Berhenti atau saya akan tuntut kalian!”
“Tidak ada yang boleh masuk ke rumah ini!”
“Kalian nggak dengar kata saya?!"
“Berhenti!”
Aku yang penasaran menghampiri Mami di depan pintu, dan terkejut melihat beberapa polisi ingin memaksa masuk tetapi dihadang oleh Mami.
“Ada apa ini, Mih?” aku bertanya. Aku melihat Mami yang menatapku dengan pandangan nanar.
Tetapi jawaban para polisi itu membuat jantungku serasa ingin melompat keluar.
“Saudara Lectra, Anda kami tangkap atas tuduhan pembunuhan.”
Dan tahu-tahu saja mereka sudah memborgol kedua tanganku.
• • •
End

Komentar
Posting Komentar