[CERBUNG] Mr. and Mrs. Watson bagian 1
Mr. And Mrs. Watson
BARU-baru ini, banyak sekali terjadi kasus orang yang menghilang tiba-tiba di kompleks itu. Korbannya bukan hanya sekadar anak SD, maupun SMP dan SMA seperti kebanyakan penculik, tetapi juga orang dewasa termasuk oma-oma di dekat rumah Arleen. Tidak jelas apa motif si pelaku, tetapi jelas dia sangat pintar hingga berhasil lolos berkali-kali dari kejaran inspektur paling hebat sekota, Inspektur Luke. Apa mungkin itu karena kebiasaan? Pelaku mungkin sudah mahir sekali dalam bidang ini kan? Bisa jadi menculik orang adalah pekerjaan sehari-hari si pelaku? Hingga bisa lolos begitu saja dari kejaran Inspektur Luke. Mungkin saja si penculik bukan manusia biasa? Mungkin saja... Pokoknya itu membuat Arleen, cewek berambut cokelat terang sebahu dan bola mata senada, murid dari SMA Harapan Unggul, sedikit banyak merasa khawatir memikirkan nasibnya dari hari ke hari. Bagaimana jika... Arleenlah yang menjadi korban selanjutnya? Iya, kalau pelakunya orang biasa. Bagaimana jika pelakunya sejenis vampir atau kanibal yang menculik orang-orang untuk dijadikan makanan? Hii, Arleen merinding memikirkan semua itu. (Jangan bilang Arleen kebanyakan nonton film horor karena dia tahu, orang-orang berjenis kanibal itu memang ada).
Dan Arleen tahu salah satunya.
Sentakan kecil dari mobil yang baru berhenti akhirnya mampu menyadarkan Arleen dari lamunan mengerikan. Cewek itu memperbaiki ekspresinya yang pasti terlihat aneh, sebelum akhirnya menengok ke sampingnya, ke arah cowok yang menjadi sopir Arleen hari ini. Cowok ganteng bernama Aldo yang baru resmi menjadi pacar Arleen tadi siang.
Tiba-tiba pipi Arleen menjadi panas saat mengingat kejadian siang tadi, sewaktu Aldo menembaknya. Percaya deh, cowok itu manis bangeett... Tanpa tahu malu Aldo berdiri di depan kelas Arleen sambil membawa gitar dan menyanyi. Suaranya sangat merdu, menurut Arleen sendiri. Kemudian setelahnya, cowok itu menyatakan perasaan sukanya pada Arleen tepat di depan seluruh anak-anak kelas. Tidak bisa dibayangkan bagaimana wajah Arleen waktu itu. Untung saja tidak ada guru yang masuk.
Arleen menghela napas tanpa sadar. Lalu tersenyum manis.
"Makasih ya, kak Al, udah mau nganterin aku sampai rumah," kata Arleen berusaha tenang di tengah jantungnya yang berdentum-dentum.
Sebenarnya, sepanjang perjalanan tadi, Arleen tidak sengaja melupakan kehadiran Aldo di sampingnya karena memikirkan soal penculikan itu. Tapi karena hal itu juga, Arleen merasa sangat bersyukur, dia jadi tidak harus merasakan jantung yang berdentum-dentum hebat sepanjang perjalanan karena saking gembiranya. Bisa diantar pulang sama cowok yang disuka gitu loh... Perlu diketahui jika Arleen sudah menyukai Aldo sejak pertama kali masuk SMA. Tidak heran jika cewek itu begitu gembira sekaligus deg-degan saat mengetahui Aldo ternyata juga menyukainya.
"Ya harus lah Leen, gue kan pacar lo, mulai sekarang gue yang bakal antar-jemput lo, ya?"
Mendengar kata pacar diucapkan dengan entengnya oleh Aldo membuat pipi Arleen bertambah merah. Cewek itu mengangguk kecil menjawab pertanyaan Aldo. "Iya, kak," katanya tidak bisa menyembunyikan nada senang sekaligus malu.
Aldo cengengesan mengetahui itu. "Lo lucu banget deh kalo lagi malu-malu gitu. Jadi gemes tau nggak?" katanya. "Ya udah ya Leen, gue pulang dulu ya? Bye. Lo juga masuk sana."
“Ya. Hati-hati kak,”
Setelahnya, tanpa melihat ke belakang, Aldo sudah membelokkan mobilnya ke arah mereka datang tadi, tentu saja menuju gerbang kompleks.
Arleen masih memandangi mobil Aldo dari kejauhan sampai akhirnya mobil itu tidak kelihatan lagi oleh matanya. Sejenak dia lupa akan ketakutannya dan lebih memilih memikirkan Aldo.
ALDO ABRAHAM. Arleen ingat sewaktu dia pertama kali bertemu cowok itu ketika MOS. Waktu itu, Arleen datang paling akhir karena bangun kesiangan. Arleen sudah membayangkan dirinya akan dibentak-bentak di depan seluruh peserta MOS karena itu. Dan benar saja, dia akhirnya harus menahan malu karena dipaksa mendengar ocehan bernada kasar ketua MOS selama berjam-jam, hingga nyaris pingsan. Bisa dibayangin kan rasanya? Arleen berdiri di depan semua orang selama berjam-jam sambil mendengar ocehan kasar ketua MOS, dan-tanpa-ada-seorangpun-yang-membelanya! Termasuk Mindi, sahabat Arleen itu tidak akan bisa berbuat apa-apa karena dia juga takut pada keotoriteran kakak kelas.
Arleen sudah pasrah dan benar-benar hampir pingsan saat tiba-tiba Aldo, cowok keren anggota OSIS dan pastinya pengurus MOS, maju untuk membelanya. Cowok itu sampai harus bertengkar dengan si ketua panitia loh... Dengan beraninya Aldo melawan ketua panitia MOS demi dirinya. Siapa yang tidak tersentuh coba? Tidak heran sekarang Arleen begitu tergila-gila pada cowok itu.
Aldo itu, selain ganteng, keren dan kaya, dia juga sangat perhatian pada siapapun. Tipe teman yang ideal, anggota OSIS yang cukup berpengaruh, dan cowok paling diincar di sekolah. Sudah seharusnya Arleen merasa bangga menjadi pacar cowok seperti itu bukan? Terlebih setahu Arleen, Selama ini Aldo itu belum pernah terlihat pacaran dengan cewek manapun. Cowok itu memang sesekali dekat dengan beberapa cewek, tapi tidak ada yang pernah benar-benar jadi pacarnya, kecuali Arleen. Arleen adalah yang pertama. Dan Arleen merasa dialah cewek paling beruntung di sekolahnya saat ini. Memikirkan itu membuat Arleen senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
Tiba-tiba senyum Arleen menghilang saat merasa ada seseorang yang mengawasinya. Cewek itu langsung menoleh ke sana ke mari mencari seseorang dengan wajah kebingungan, tapi tidak menemukan siapapun. Tidak ada seorangpun yang kelihatan berdiri di luar rumah, kecuali...
Tatapan Arleen kali ini tertuju pada rumah bercat abu-abu yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Sekilas gorden depan rumah itu tampak bergoyang kecil, seperti habis terbuka, menandakan jika memang pemilik rumah itulah yang barusan mengawasi Arleen dari dalam.
Mendadak, tatapan Arleen berubah horor. “Watson?” gumamnya.
Tubuh Arleen bergetar ketakutan begitu menyadari siapa yang barusan mengawasinya. Tuan dan Nyonya Watson?
Pemilik rumah bercat abu-abu itu, pasangan suami-istri Watson itu, adalah orang keturunan Jerman asli yang kabarnya sudah lama menetap di indonesia. Tetapi baru pindah ke kompleks ini sebulan yang lalu. Perawakan mereka tinggi besar khas orang barat. Rambut pirang dengan mata biru kusam, membuat mereka tampak lebih mencolok daripada kebanyakan orang di kompleks ini. Dan yang membuat Arleen ketakutan adalah... Mereka... Mereka itu sepasang kanibal!
Ya, mereka itu sepasang kanibal yang menculik orang untuk di jadikan makanan. Arleen pernah melihat sendiri buktinya. Bukan hanya sekali, tetapi dua kali.
Krasak-krusuk di otak Arleen juga mengatakan jika pasangan itu memiliki hubungan erat dengan kasus yang terjadi belakangan ini. Mungkin mereka itulah pelakunya? Dari awal Arleen sudah curiga jika pelaku kasus ini adalah orang yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Mungkin bukan orang. Mungkin vampir yang bisa bergerak sangat cepat dan tanpa meninggalkan jejak? Tapi Arleen tidak percaya vampir. Vampir hanyalah tokoh fiksi karangan penulis-penulis barat yang kelebihan imajinasi. Lebih mungkin jika pelakunya seorang kanibal. Kanibal menculik orang untuk dijadikan makanan. Meski di indonesia sendiri seseorang seperti itu tidak cukup eksis akhir-akhir ini, tetapi Arleen tahu jika di negeri barat sana sudah ada banyak yang menjadi korban kanibal. Dan Arleen menaruh curiga pada pasangan itu. Bukannya Jerman masih saudara dengan barat? Bisa jadi kan memang pasangan kanibal yang sedang bersembunyi di kompleks itu karena diburu polisi? Mereka pasti sudah banyak membunuh orang. Tapi kenapa inspektur Luke tidak terlihat mencurigai mereka ya? Ah, mungkin saja dia memang curiga tapi tidak menampakannya. Inspektur Luke mungkin sengaja membiarkan mereka agar bisa menangkap basah mereka saat sedang beraksi.
Dan kecurigaan Arleen tentang mereka adalah kanibal berawal saat suatu malam, Arleen pernah memergoki Nyonya Watson tengah mengubur sesuatu di halamannya. Terlihat seperti benda putih panjang mirip... tulang! Iya. Tulang manusia. Nyonya Watson mengubur tulang manusia di dekat pohon mangga yang ada di halaman rumahnya itu. Arleen melihatnya dari jendela.
Lalu, saat Arleen pertama kali mengunjungi rumah mereka untuk mengantar kue pemberian Vera, mama Arleen hari itu juga, Arleen yakin dia sempat melihat darah di sudut bibir Tuan Watson. Dia seperti habis memakan sesuatu yang memiliki darah. Daging mentah? Daging ayam mentah? Atau daging manusia mentah? Menjijikkan.
Terakhir, selama sebulan pasangan Watson itu tinggal di kompleks ini, Arleen tidak pernah ya melihat mereka keluar, selain pada malam atau pagi-pagi sekali. Membuat Arleen percaya jika mereka memang benar-benar sedang bersembunyi. Mereka kanibal yang sedang bersembunyi dari polisi. Mereka takut pada polisi. Apa Arleen katakan saja pada Senior Inspektur dan tidak usah menunggu Inspektur Luke?
Tidak ingin memikirkan hal yang membingungkan itu, Arleen buru-buru masuk ke dalam dan mengunci gerbang.
Rumah Arleen termasuk yang paling besar dibanding rumah-rumah di sekitarannya, kompleks itu memang sebenarnya tidak besar-besar amat sih. Dengan dua lantai dan halaman yang luas serta kolam renang kecil di halaman rumah, rumah itu terasa sangat nyaman untuk ditinggali.
Saat membuka pintu, Arleen sudah terbiasa mendapati keadaan rumah yang sepi. Malah aneh kalau tidak sepi, pikir Arleen.
"Arleen pulaaangg," cewek itu tak memusingkan soal tidak ada yang menjawab salamnya. Dia segera naik menuju kamarnya di lantai dua, menyalakan lampu, lalu masuk ke kamar mandi, ingin menyegarkan diri setelah seharian penuh keringat akibat aktivitas sekolah. Setelah itu menunggu papa dan mamanya pulang sembari mengerjakan pr. Papa Arleen itu seorang manager di sebuah perusahaan asing, dia sangat sibuk. Dia juga sering pergi ke luar kota sama halnya seperti mama Arleen yang juga sering ke luar kota, tak jarang papanya malah harus ke luar negeri selama beberapa hari karena urusan pekerjaan. Mama Arleen adalah penulis novel yang cukup terkenal. Dan dia juga cukup sibuk tapi tak sesibuk papanya. Mama Arleen cukup sering berada di rumah untuk mengerjakan novelnya.
Dan sesibuk-sibuknya mereka, setidaknya mereka masih bisa meluangkan waktu untuk Arleen.
Hari sudah gelap saat tiba-tiba Arleen merasa ada orang yang mengintip dari sudut jendela yang tertutup gorden. Arleen sudah berjalan mengendap-endap dan hampir saja menyibak gorden itu, tetapi, suara berisik di lantai bawah mengalihkan perhatiannya. Buru-buru Arleen mengemas buku-bukunya lalu turun ke bawah, melupakan soal kemungkinan ada orang di luar jendela kamarnya yang ingin berniat jahat. Sebenarnya Arleen takut untuk menghadapi orang jahat.
Sedangkan di bawah pasti mama dan papanya sudah pulang.
• • •
Bersambung...

Komentar
Posting Komentar