[CERMIN] Mayat Di Ladang Jagung
Hari ke-3 dalam seminggu, sepagian ini cuaca menyapa dengan lebih dingin. Lautan awan hitam bersemayam lama di atas langit dan membawa gemuruh yang menakutkan. Mengacau serta menggentarkan. Di tengah ladang jagung yang kesemua pohon itu telah kering dan menguning, aku berjalan terburu-buru dengan payung hitam yang digenggam dengan kedua tangan. Untuk sesekali menghela napas. Dan berpikir, betapa lelah dan letihnya harus berjalan selama satu jam dari desa tempat aku tinggal untuk sampai ke kota itu. Terlebih lagi ditambah dengan cuaca buruk seperti sekarang.
“Cepat! Cepat!” aku bergumam sendiri. Aku menyayangkan mengapa Lidya, sahabat sekaligus teman kerjaku memilih bolos hari ini dan membuat aku harus berjalan seorang diri. Kemudian dicekam ketakutan saat mendongak ke atas. Melihat semakin hitam pekatnya awan di atas langit, untuk kemudian harus berjalan semakin terburu-buru lagi. Semakin cepat dan semakin cepat. Memburu waktu. Sebelum hujan lebih dulu turun dan membuyarkan pandanganku. Lalu membuatku terlambat dan basah. Dan membuat si bosku yang gendut dan galak marah besar.
—Yang aku takutkan bukanlah kemarahan si bosku itu, melainkan aku takut tidak bisa menahan tawa saat melihat wajah marahnya yang menurutku sangat-sangat aneh. Jika sampai itu terjadi, bukan hanya aku bisa dipecat tetapi lebih buruk dari itu, aku akan disuruh bekerja selama satu bulan dengan potongan gaji. Dan untuk menghindari apa yang aku takutkan itu, akan lebih baik jika aku tidak pernah terlambat sekalipun.—
Tiba-tiba bau yang sangat busuk tercium dari ladang jagung yang aku lewati. Awalnya tidak terlalu jelas. Namun, semakin lama aku melangkah, semakin jelas juga bau itu tercium. Membuat aku sontak tergerak untuk mencari tahu bau apa itu.
Aku membaui sekitarku untuk mencari asal bau itu, yang ternyata berasal dari tengah ladang. Membuat aku tanpa lama berjalan menerobos sambil menyibak pohon-pohon jagung yang telah mengering, setelah sebelumnya menggeletakkan begitu saja payungku secara asal.
Aku terus berjalan, menerobos sambil menyibak, hingga akhirnya sampai di tempat dimana bau itu berasal. Yang seketika membuat mataku terbelalak. Sebuah plastik hitam besar yang dikerubungi lalat tampak didepan mataku dengan sesosok mayat pemuda di dalamnya! Dengan tubuh pucat pasi, wajah setengah hancur, dan mata yang melotot ke arahku.
Aku masih di tempatku. Masih terpaku bahkan saat aku melihat mayat itu tiba-tiba bergerak. Aku mengucek-ngucek mataku dan memastikan mayat itu benar-benar ber-ge-rak, dan berdiri. Tubuhnya berdarah-darah dengan beberapa bagian tubuh yang terburai keluar. Tangannya menggapai-gapai ke arahku seperti ingin mencengkeram tubuhku. Melihat itu, sontak aku buru-buru lari, ketakutan sambil berteriak keras. “AAAAAAAHHHHH!"
Aku berlari kalang kabut tanpa mempedulikan kakiku yang rasanya ingin copot. Berlari sekuat tenaga tanpa peduli arah hingga akhirnya berhenti setelah merasa cukup jauh. Kemudian merasakan jantungku yang berdebar-debar, perutku yang mual dan tubuhku yang rasanya tiba-tiba sangat lemas. Ketakutan dan rasa tidak percaya masih menguasai.
Lalu tiba-tiba, hujan turun dengan derasnya tanpa tahu waktu.

Komentar
Posting Komentar