[CERPEN ANAK] KELUARGA ULAR YANG SOMBONG
KELUARGA ULAR YANG SOMBONG
Bapak Ular selalu berkata kepada anak-anaknya, "Carilah tikus-tikus terbaik untuk kalian makan! Carilah di rumah-rumah penduduk! Yang setiap hari memakan keju! Yang setiap harinya tidur dan berlindung di bawah atap rumah! Agar kita bisa berbangga diri pada saudara-saudara kita!"
Maka anak-anak ular pun menuruti perintah itu. Setiap hari mereka berusaha tidak mencari tikus di sawah-sawah. Mereka juga tidak pernah berkubang di lumpur mencari tikus yang suka memakan padi. Mereka selalu mencari tikus di rumah-rumah yang memakan keju.
Tikus-tikus rumah punya perbedaan dengan tikus-tikus sawah yaitu mereka jauh lebih pintar daripada tikus-tikus di sawah. Anak-anak ular awalnya sangat kesulitan menangkap tikus-tikus rumah tersebut. Tidak jarang juga anak-anak ular sampai tidak makan selama berhari-hari, karena tidak ada seekor pun tikus yang bisa mereka tangkap. Jadilah tubuh mereka seringkali terlihat lemas dan lesu.
Tubuh anak-anak ular itu lebih kecil daripada anak-anak ular lainnya. Jika ditanya Bapak Ular: kenapa mereka terlihat lesu? mereka menjawab, "Oh, Pak. Tidak apa-apa. Kami hanya lelah karena kami sudah menangkap banyak tikus hari ini."
Saat itu Bapak Ular hanya percaya, tidak menanyakan kenapa tubuh anak-anaknya semakin kurus dari hari ke hari.
Lalu Bapak Ular menceritakan bagaimana saat dia masih kecil dulu, dia menangkap tikus rumah yang pintar seorang diri karena tidak ada satu pun saudaranya yang bisa menangkapnya.
Anak-anak ular mendengarkan cerita itu dengan penuh rasa kagum. Mereka pun berkata pada diri mereka sendiri: jika mereka harus bisa! Mereka harus sehebat Bapak Ular. Hingga mereka bisa menyombongkan diri pada anak-anak ular lain.
Anak-anak ular pun dengan semangatnya mempelajari bagaimana caranya menjadi penangkap tikus yang hebat. Setiap hari mereka mendatangi rumah-rumah penduduk dan mencoba mengejar seekor tikus. Mereka terus mencoba tanpa menyerah karena alasan ingin menjadi yang terhebat. Sampai akhirnya, pada suatu hari anak-anak ular pun berhasil menangkap seekor tikus tanpa kesulitan. Mereka bergembira.
Lalu di hari berikutnya, mereka pun berhasil menangkap banyak sekali tikus tanpa ada satupun yang lolos.
Anak-anak ular merasa sangat bangga akan hal itu. Mereka bahagia dan tertawa-tawa senang sambil memainkan tikus-tikus yang mati. Mereka berpikir jika mereka sekarang sudah menjadi yang paling hebat di antara anak-anak ular lain bahkan ular-ular dewasa sekalipun.
Hari itu, anak-anak ular pun mengumpulkan seluruh ular-ular di kampung ular, dan memaksa ular-ular itu menyaksikan keberhasilan mereka.
Anak-anak ular memperlihatkan tikus-tikus yang mereka tangkap dengan bangga. Tikus-tikus itu bersih, bulunya halus dan putih. Tidak ada sedikitpun lumpur di tubuh maupun di kaki mereka. Badannya pun besar. Seketika membuat ular-ular di kampung itu menatap kagum ke arah anak-anak ular.
"Wahh!!"
"Lihatlah! Lihatlah! Kami berhasil menangkap tikus-tikus ini di rumah-rumah penduduk! Kami berhasil mengecoh manusia-manusia kejam di sekitar sana!" kata salah satu anak ular bernama Theo, yang langsung diangguki saudara-saudaranya.
"Betul. Betul."
Tidak lupa Bapak Ular pun ikut membangga-banggakan anaknya. "Lihatlah! Lihatlah! Mereka yang hebat ini adalah anak-anakku! Mereka adalah anak-anakku!" katanya kemudian tertawa terbahak-bahak.
Bapak Ular tidak menyadari jika tatapan kagum ular-ular di kampung itu kini sudah hilang. Tatapan mereka berubah menjadi tidak senang melihat kesombongan keluarga tersebut.
Bapak Ular terus saja tertawa senang bersama anak-anaknya hingga saatnya seekor ular berteriak pada mereka.
"ITU BELUM CUKUP!" teriak ular itu, "Anak-anakmu menangkap tikus itu bersama-sama wahai bapak ular. Jika memang mereka hebat, maka suruhlah mereka untuk menangkap tikus itu seorang diri!"
Bapak Ular sama sekali tak gentar mendengar tantangan itu. Dia masih tetap dengan wajah sombongnya berkata, "apa yang akan kau lakukan jika anak-anakku berhasil menangkap masing-masing seekor tikus besok?!"
"Kami akan mengakui jika keluarga kalian memang yang terhebat!"
Maka pada keesokan harinya, anak-anak ular pun berangkat menuju rumah-rumah penduduk. Anak-anak ular berjalan angkuh ketika melewati ular-ular di kampung ular. Anak-anak ular tidak peduli dengan tatapan tidak suka ular-ular yang mereka lewati. Hingga tidak lama kemudian, sampailah anak-anak ular ke tempat tujuan. Mereka berpencar dengan kepercayaan diri penuh.
Satu anak ular mencari tikus di loteng rumah bercat kuning. Satu lagi mencari di rumah bercat biru. Satu mencari di rumah bercat merah. Satu di rumah bercat hijau. Dan satu di rumah bercat oranye.
Sampai satu jam kemudian anak-anak ular kembali berkumpul membawa seekor tikus di mulut mereka masing-masing. Mereka telah berhasil menjebak seekor tikus seperti yang biasa mereka lakukan jika bersama-sama. Dan kini, anak-anak ular pun tidak sabar untuk membawa tikus itu pulang, dan menunjukannya pada ular-ular di kampung ular. Mereka tidak sabar untuk mendapat pujian dan menjadi keluarga yang terhebat.
Ular-ular di kampung ular menyambut kedatangan anak-anak ular itu dengan wajah terkejut. Mereka tidak menyangka jika anak-anak ular yang kecil seperti mereka bisa menangkap tikus rumah seorang diri. Akhirnya, ular-ular di kampung ular pun mau mengakui jika keluarga Bapak Ular memanglah yang paling hebat. Mereka mulai menghormati keluarga tersebut.
Dan itu membuat keluarga Bapak Ular tertidur nyenyak malam ini. Mereka tidak memikirkan apa yang akan terjadi esok hari.
Pada keesokan harinya, ada kabar yang mengatakan jika penduduk sudah memasang alat anti tikus yang canggih di rumah-rumah mereka. Dan itu membuat tikus-tikus rumah kabur meninggalkan rumah-rumah tersebut. Keluarga Bapak Ular yang mendengar kabar itu panik. Mereka segera pergi ke rumah-rumah penduduk dan memastikan kabar yang ternyata benar adanya itu.
Keluarga Bapak Ular tidak menemukan seekor tikus pun di tempat mereka biasa berburu. Tubuh keluarga itu langsung lemas.
Jika tikus-tikus rumah pergi, lalu apa yang harus mereka makan? Mereka tidak bisa memakan tikus sawah karena mereka tak terbiasa memakannya. Dan jika memaksa, mungkin mereka akan langsung memuntahkannya beberapa saat setelah tikus itu masuk ke mulut mereka.
End

Komentar
Posting Komentar