(CERPEN) Manda

 


"Hati-hati, kucing hitam itu bisa bawa sial. Jelmaan setan..."


DULU AKU mengira mitos cumalah mitos. Aku tidak percaya. Omong kosong. Bualan. Belum tentu kebenarannya. Setiap teman-teman sekolah dasarku bercerita di belakang kelas, dengan heboh, setiap itu juga aku menertawakan mereka. Bodoh banget, pikirku. Habis, mau bagaimana lagi, sih? Aku ini anak seorang Doktor. Tidak percaya pada hal yang tidak bisa diterima akal sehat. Seperti kata Mama suatu hari;

"Ketiban cicak begini. Kucing hitam begitu. Hah! jangan percaya. Itu Cuma mitos."

Mama selalu mencibir apapun yang berbau mitos. Karena menurutnya, semua hal tersebut terlalu mengada-ada. Dan lama-kelamaan aku pun mengikutinya. Tidak percaya mitos juga. Tidak ada alasan untuk aku tidak mempercayai Mama. Benar, kan?

Suatu hari, sewaktu aku baru saja pulang dari sekolahku, SMA Harapan Unggul, aku berjalan melewati gang sempit di belakang pasar yang lebih bisa dibilang tempat pembuangan kucing dan ikan busuk.

Di ujung gang itu ada rumahku.

Biasanya sih, preman-preman pasar selalu berkumpul di tempat ini setiap sore. Tetapi aku ingat, waktu itu belum sore-sore amat jadi para preman itu belum berkumpul dan aku aman.

Sepanjang jalan, yang menemaniku hanya bau amis dan kucing-kucing yang tidak bisa dikatakan lucu. Tidak, bukannya aku tidak suka kucing. Aku suka kok, tetapi kucing-kucing yang di situ benar-benar tidak lucu, malah membuatku jijik. Kotor, tahu tidak? Banyak dari mereka yang penyakitan dan berborok. Setiap mereka mulai mendekatiku, aku langsung menyingkirkan mereka dengan kakiku dan mulai berjalan cepat.

Tetapi hari itu ada satu kucing yang menarik perhatianku.

Bukan karena warna bulunya yang cantik, dia berbulu hitam legam, atau karena matanya yang bulat lucu, tetapi karena kucing itu masih memakai kalung dari majikannya.

Kucing tersesat? Sepertinya iya. Bulunya yang lebat dan masih tampak bersih, tidak menandakan itu kucing buangan. Aku kasihan. Dia tampak ketakutan di tempat asing.

Dengan hati-hati, Aku mendekati kucing itu supaya dia tidak kaget dan kabur.

"Pus," kataku memanggilnya. Biasanya, semua kucing akan mendekat bila ada orang yang memanggilnya seperti itu. Entahlah, mungkin naluri. Dan dia terbukti mendekat. Saat itu, aku langsung menggendongnya dan mengelus-elusnya sayang. "Tenang saja... Aku akan bantu kamu cari majikanmu ya?"

Kucing itu mengeong.

Aku baru berniat ingin membawa kucing itu pulang ketika seorang paman, yang aku tidak tahu kapan sudah ada di dekatku berkata, "Hati-hati lho neng, biar bagaimanapun itu kucing hitam, kucing pembawa sial, tahu." Lalu paman itu melipir pergi begitu saja setelah memperingatiku.

Hah! Waktu itu rasanya aku ingin tertawa geli. Bagaimana bisa orang dewasa sepertinya masih percaya mitos, sih? Tetapi aku tidak enak perasaan jika menertawakan orang yang tidak kukenal. Alhasil, aku hanya tersenyum kaku.

Aku membuka gerbang belakang rumahku yang tidak terkunci dan agak kaget menemukan Mama yang sedang menyiram tanaman. Ternyata Mama sudah pulang jam segini. Biasanya belum.

"Bawa apa tuh, Nad?" tanya Mama.

"Kucing, Ma. Kayaknya dia tersesat deh. Sementara dirawat di sini dulu nggak apa-apa, kan?" aku menjawab agak takut.

"Oh, kalau begitu bawa aja ke dalam. Suruh Mbak mandiin."

"Oke."

Aku menghela napas lega karena Mama mengijinkan. Biasanya kan, dia tidak suka kucing?

Sebenarnya aku tergolong anak orang kaya, sebelumnya kan aku sudah bilang kalau aku ini anak Doktor.

Mamaku Doktor Ilmu Fisika, si pintar yang menerima gelar Doktornya di usia 26 tahun, dan Papaku Dokter Bedah.

Rumahku besar, malah seperti istana bila dibandingkan dengan rumah-rumah di sekitar sini yang cukup bisa dibilang kumuh. Lalu, kenapa tadi aku pulang melewati belakang pasar?

Sebenarnya tidak begitu. Aku melewati pasar hanya sesekali saja kok. Biasanya ada sopir yang mengantar jemputku setiap hari. Namun, dikarenakan aku tadi ada tugas kelompok sebentar, aku terpaksa meminta sopirku itu untuk tidak usah menjemputku hari ini.

Lagipula aku juga tidak keberatan harus melewati pasar. Pasar dekat dengan jalan besar. Ada angkot di situ. Sesekali mandiri tidak apa-apa, kan? Orangtuaku juga tidak mendidikku untuk jadi manja.

Aku melihat ruang tengah yang tampak lengang. Ah, mbak Surti pasti lagi di kamar. 

"Mbaaaak," panggilku sedikit keras. Beberapa detik kemudian, mbak Surti datang dengan tergopoh-gopoh.

"Iya, Non?"

"Mbak, tolong mandiin kucing ini yah," aku menyerahkan kucing yang kutemukan di pasar. "Aku nemu di pasar tadi. Tapi kayaknya masih ada pemiliknya deh. Makanya sementara kucing itu di rawat di sini dulu sambil aku nyari pemiliknya ya mbak," lanjutku sebelum mbak Surti sempat bertanya itu kucing siapa.

"Oh gitu, Non? Okedeh, Non," sahutnya lalu pergi ke kamar mandi belakang.

Aku sendiri memasuki kamar, menghempaskan tasku dengan asal lalu masuk ke kamar mandi. Selesai mandi, aku melihat mbak Surti yang juga sudah selesai memandikan kucing itu. Mbak Surti tampak telaten mengeringkan bulu kucing dengan handuk. Sekarang kucing hitam itu malah memejamkam mata karena keenakan.

"Udah selesai ya, Mbak?"

"Eh, iya nih, Non. Kucingnya nurut banget, enggak nyakar-nyakar waktu dimandiin."

"Ya bagus dong. Jadi nggak ngerepotin mbak," aku mengambil alih kucing itu dan aku pangku. Aku mencium bulunya yang sekarang sudah wangi. "Wangi banget mbak. Samponya berapa botol nih?"

"Nggak banyak kok Non. Kucingnya emang udah wangi."

Untuk beberapa saat kami terdiam.

"Oh ya, Non, nama kucingnya siapa?" tanya Mbak Surti spontan membuatku menoleh.

"Oh iya, mbak. Nggak tahu. Kita namain aja gimana?"

"Siapa Non?"

"Manda."

"Wah, bagus Non. Manda. Kayak nama artis siapaa gitu?"

"Jangan disamain sama artis dong mbak. Nanti artisnya marah."

Mbak Surti malah tersenyum malu.

Aku menatap kucing di pangkuanku lalu berkata, "Oke, untuk sekarang nama kamu Manda ya?"

Dan seperti mengerti perkataanku, kucing itu langsung mengeong. "Meoong."

Keesokan hari dan seterus-seterusnya, aku disibukkan dengan poster Manda yang kutempelkan di sekitar daerah pasar. Aku benar-benar serius mau mencari majikan Manda. Kasihan. Kupikir, siapa tahu majikan Manda sangat rindu pada kucing kesayangannya itu.

Setiap ada telepon yang masuk, aku atau mbak Surti buru-buru mengangkatnya, berharap itu dari majikan Manda.

"Sudah ada yang cari Manda belum mbak?" aku bertanya saat mbak Surti baru saja habis menerima telepon. Sedangkan Manda di pangkuanku.

"Belum, Non. Itu tadi dari Bu Winda yang nanya Nyonya udah pulang apa belum."

"Oh," Aku kembali memperhatikan Manda, sedangkan Mbak Surti melanjutkan pekerjaannya.

Sejujurnya aku tidak terlalu sedih jika Manda tidak kunjung menemukan majikannya itu. Aku malah senang. Sebagai anak tunggal, aku senang sekali sejak kedatangan Manda karena aku jadi memiliki teman. Sebelum ini Mama tidak pernah memperbolehkanku memelihara binatang, terlebih kucing, makanya aku cukup heran sewaktu Mama dengan entengnya memperbolehkan Manda dirawat di sini sementara waktu.

Hampir seminggu Manda tinggal di rumah ini dan semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang aneh. Apalagi yang bisa dibilang kesialan. Sampai akhirnya di hari ke sembilan, tepatnya di hari Jumat, sesuatu yang aneh baru mulai terjadi.

Di awali dengan hilangnya seluruh makanan di kulkas. Mama sangat marah waktu itu dan menanyakan semuanya pada mbak Surti. Tetapi mbak Surti bilang tidak tahu.

"Ini kok makanan semua nggak ada, Mbak?"

"Saya tidak tahu, Nyah. Semalam semua makanan masih lengkap."

Tetapi nyatanya hari ini semua makanan di kulkas hilang, pikirku. Aku mencoba berpikir realistis. Pasti ada seseorang yang mengambil.

Di hari berikutnya, sama seperti kemarin, semua makanan di kulkas hilang. Mama memanggil dan menginterogasi seluruh karyawan di rumah ini, dan berakhir dengan menyuruh mbak Surti pulang kampung.

"Mbak, sepertinya mbak Surti harus pulang kampung dulu deh sampai masalah ini selesai. Saya percaya sama Mbak Surti, tetapi saya harus cari tahu yang sebenarnya."

"Terima kasih sudah percaya sama saya, Nyah. Saya tidak apa-apa harus pergi."

Waktu itu aku tidak tahu kalau mbak Surti tidak akan pernah kembali lagi ke rumah ini sampai kapanpun. Aku percaya pada mbak Surti sama seperti Mama, tetapi kami tidak memiliki bukti untuk menahan wanita itu. Padahal mbak Surti sudah hampir enam tahun kerja di sini dan sudah aku anggap temanku.

Hari-hari selanjutnya, kejadian makanan hilang tetap saja terjadi walaupun mbak Surti sudah tidak ada di rumah.

Tidak mungkin karyawan yang lain karena mereka tinggal di luar. Hanya ada Aku, Mama dan Papa yang seringkali pulang larut karena pekerjaannya di rumah ini.

Dan kami bertiga tidak mungkin mencuri di rumah sendiri, kan? Jika mengambil pun, tidak mungkin kami akan mengambil semua makanan di kulkas yang segitu banyak. Aku mulai mencurigai Manda. Benar tidak sih, kucing hitam itu bisa bawa sial?

Saat malam itu, aku terbangun di tengah malam dan menyadari Manda tidak ada di sampingku. Biasanya kucing itu selalu tidur di sampingku sampai pagi. Tetapi malam itu tidak. Dan kecurigaanku bertambah.

Malam berikutnya aku terbangun lagi sekitar pukul sepuluh dan melihat Manda diam-diam keluar.

Aku mencoba menguntitnya karena penasaran, sekaligus ingin membuktikan bahwa pikiran orang-orang tentang kucing hitam itu salah. Aku melihat Manda melewati celah kecil di dapur dengan mudah dan keluar, meloncati pagar besi pembatas di depan rumahku, lalu berlari ke suatu tempat, entah ke mana.

Tidak ingin kehilangan jejaknya, aku pun buru-buru membuka pintu dan berlari mengejar Manda yang larinya kencang sekali.

Sampai tahu-tahu aku sudah tiba di depan sebuah rumah di ujung kompleks. Kata orang itu rumah kosong. Aku juga tidak tahu. Tidak ada orang yang pernah aku lihat memasuki rumah itu sedari dulu. Tetapi lampunya selalu menyala setiap malam.

Ngapain Manda masuk ke rumah ini? Pikirku. Tetapi, dengan ragu-ragu, akhirnya aku pun mengikuti Manda juga, masuk ke dalam dengan hati-hati.

Aku melihat Manda menghampiri sosok perempuan yang duduk membelakangiku di kursi goyang. Alisku berkerut. Katanya rumah ini kosong. Terus siapa dia? Aku mulai merasakan firasat buruk.

Aku merasakan banyak mata yang mengawasiku. Melihat sekeliling, tidak ada siapapun. Hanya beberapa lukisan mati yang terpasang di dinding dengan mata-mata yang seolah mengawasiku. Aku kembali berfokus pada Manda.

Dan saat itu, betapa kagetnya aku, melihat wanita yang tadi membelakangiku kini memandangku sambil menyeringai. Mukanya rusak! Dan matanya... putih mengerikan!

Kulihat Manda juga menyeringai padaku. Apa-apaan itu? Tanpa pikir panjang aku langsung berlari kembali ke rumah dengan degub jantung yang tak keruan. Memasuki kamar dan mengunci pintu dengan tubuh gemetar. Meringkuk di depan pintu. Lalu entah sejak kapan, aku mulai mengantuk. Aku tertidur kembali dengan tubuh menyender ke pintu.

Aku tersentak bangun. Aku melihat Manda masih tidur pulas di sampingku. Keningku berkerut. Apa... tadi Cuma mimpi? Aku menghela napas. Kulirik jam yang menunjukkan angka 6. Lalu melihat Manda lagi... DAN SYOK MENDAPATI KUCING ITU TENGAH TERSENYUM LEBAR!

Mulai saat itu kejadian-kejadian yang lebih aneh lebih sering terjadi. Beberapa genteng rumah seringkali jatuh tanpa sebab. Lampu seringkali konslet, padahal sebelumnya tidak pernah. Selain itu, akupun mendapat teror dari Manda dan majikannya

Kamarku berubah mengerikan sejak ada penghuni baru yang datang tanpa di undang. Si wanita mengerikan itu. Aku meringkuk di pojok kamar. Melihat Manda dipangkuannya dengan perasaan takut bercampur kesal. Bagaimana? Bagaimana cara mengusir mereka sekarang? Sampai suatu hari, saat wanita itu tiba-tiba menghilang, aku menyuruh pak Maman untuk membuang Manda sejauh-jauhnya.

"Lho, Non, bukannya pemiliknya belum ketemu?" tanya pak Maman.

Tetapi aku yang ketakutan ingin Manda cepat-cepat dibuang.. "Udah pak, buang aja,"

"Okedeh non,"

Aku menghela napas lega. Aku yakin hidupku akan kembali tenang setelah Manda pergi. Tidak ada lagi wanita mengerikan itu. Tidak ada lagi kesialan-kesialan yang akan terjadi.

Tetapi, ketenanganku hanya bertahan kurang dari seminggu.


* * *


Hari Jumat, Manda tiba-tiba kembali lagi. Dengan tenangnya dia tiduran di sofa. Dan di sampingnya, si wanita mengerikan duduk. 


Dan aku, tanpa sadar, berteriak gila. 


"Aaaaaaaa... Aaaaa..."

Semua orang mengiraku sakit jiwa.

Mama memasukkanku ke Rumah Sakit Jiwa.

Dan lebih mengenaskannya lagi, kucing itu sengaja di taruh di kamar rawatku, diikuti si wanita mengerikan, membiarkan mereka mengejekku setiap saat!

* * *


Komentar