[CERPEN] SI CEWEK CUPU
“EH, LO INGAT KALAU PESTA PROMP NIGHT DIADAIN MINGGU DEPAN KAN?!”
Si cewek A berkata dengan nada antusias bahkan terlalu antusias sampai-sampai mengalahkan suasana kantin yang riuh siang itu pada si cewek B. Lalu aku mendengar si cewek B juga menyahut dengan nada tak kalah antusiasnya. Mereka berbincang seolah hanya ada mereka berdua di kantin yang minimalis ini dan itu yang menjadi alasan utama mengapa aku tidak terlalu menyukai kantin. Terlalu berisik. Terlalu banyak orang, terlebih ditambah oknum-oknum pengganggu seperti mereka yang tidak pernah segan untuk mengganggu ketenangan makan orang lain. Aku heran mengapa masih banyak saja anak-anak yang sejenis. Menjadi pengganggu. Yah, meski aku tidak yakin beberapa anak masih menganggap mereka pengganggu sih.
Aku melihat banyak anak cewek lainnya yang ikut menimbrung di meja si cewek A dan si cewek B ketika mendengar kata Promnight.
“Promnight?! Kyaa gue nggak sabar banget buat nunggu minggu depan!”
“Gue juga!”
“Sama dong!”
“Iyaahh gue juga nggak sabar!”
“Gue udah siapin baju paling bagus, tahu?! Gue yakin gue bakalan tampil paling cantik tahun ini! Kyaa”
“Gue mau pamer cowok gue lah!”
“Emang Lo punya?”
“Idih, ngeremehin banget lo! punyaaa dong!”
“Gue mau ajak Kak Tomyyy!”
“Gue mau ajak Kak Rioooo!!!”
“Gue juga, Kak Danielll!!!!!”
“Coba aja kalau mau ditendang elo elo pada!”
“Hahahaha,” seketika tawa tak jelas membahana di sekeliling meja itu.
Yah, sudah bukan rahasia lagi kalau sekolahku selalu mengadakan pesta promnight untuk melepas kelulusan murid kelas dua belas setiap tahunnya. Semua siswa, dari mulai kelas sepuluh sampai kelas dua belas sudah bisa dipastikan antusias. Mereka akan datang berbondong-bondong sembari berlomba-lomba menjadi yang tercantik atau terganteng, dengan gaun-gaun atau jas mahal dan dandanan yang... Syukur kalau tidak terlalu menor. Yah, semuanya, kecuali aku. Mungkin, hanya akulah satu-satunya orang di sekolah yang tidak terlalu antusias pada acara-acara seperti ini.
Aku tak memiliki alasan yang cukup untuk bisa datang. Karena, selain aku tidak memiliki pasangan, yang menjadi alasan utama adalah... Kamu tahu? Julukanku di sekolah adalah si cewek cupu. Penampilanku jelek dan aku tidak mau menjadi bahan ejekan gratis jika aku datang. Terkadang aku menyesali mengapa aku memiliki tompel sebesar kotoran cicak di pipi kananku, yang membuat aku tidak pede dan selalu menjadi bahan ejekan. Di tambah mata minus yang mengharuskan aku memakai kacamata jadul pemberian eyang. Lengkaplah sudah.
Tiba-tiba aku merasa keadaan kantin menjadi senyap. Aku memandang sekeliling mencari tahu apa yang terjadi, lalu kemudian kembali fokus pada bekal makan siangku di atas meja. Bersikap abai menyadari penyebabnya adalah sesuatu yang tidak penting. Harusnya aku sudah hapal, bahwa satu-satunya yang bisa membuat keadaan kantin menjadi senyap tiba-tiba adalah... tiga cowok itu. Trio Prince. Tiga cowok yang sempat disebut-sebut oleh rombongan si cewek A dan si cewek B tadi. Tomy, Rio dan Daniel.
Aku mendengar para fansgirl mulai berteriak heboh begitu tiga cowok itu lewat. Terdengar lebih keras dan lebih heboh dibanding tadi saat mereka mengobrol, membuat aku tidak bisa lagi menahan bibirku agar tidak mengumpat, pelan. Diam-diam aku menyesali mengapa aku dulu pernah menjadi bagian dari mereka juga. Menjadi pengagum salah satu dari tiga orang yang sama sekali tidak pernah melihat ke arahku, meski aku sama sekali tidak pernah seheboh cewek-cewek itu. Palingan aku hanya memandang dari jauh, memandang diam-diam dari meja kantin paling pojok yang sedang aku tempati sekarang seperti orang bodoh. Dan berharap dia melihatku sekali saja meski kemungkinannya amat sangat kecil.
Namun kemudian, aku menyadari kebodohanku.
Seandainya cowok itu melihatku pun, mana mungkin dia tidak memandangku sama seperti anak-anak lainnya yang memandangku hanya dari kejelekanku. Bahkan, kemungkinan besar mereka juga akan menganggapku seperti mainan, sama seperti yang lain. Mereka akan menggangguku. Mereka akan membuat kehidupan sekolahku yang biasanya tidak tenang menjadi semakin tidak tenang. Mulai sejak itu, aku berhenti berharap. Dan justru selalu berdoa agar cowok-cowok itu tidak akan pernah melihatku selamanya.
Aku semakin menunduk menyadari cowok-cowok itu sudah sampai di dekat mejaku, lebih tepatnya mereka kini berjalan di depan satu meja di depan mejaku. Aku menunggu selama beberapa menit, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mendongak. Sedikit heran melihat anak-anak berbisik-bisik sambil menatap ke arahku. Aku mengangkat bahu. Kemudian menyendok nasi goreng dan kembali makan dengan tenang.
“Orang segede gini nggak keliatan ya?”
Tubuhku langsung membeku, mendengar suara asing tepat di samping telingaku membuat aku, jantungku berdegup kencang. Pelan-pelan, aku menolehkan kepala ke samping kanan. Dan tersentak melihat cowok yang barusan lewat dan aku hindari seumur hidup sudah duduk manis di sana. Tomy, cowok itu melihatku dengan senyum ... Manis! Astaga.
Tiba-tiba aku menjadi gugup luar biasa.
“Hai,” sapa cowok itu.
Namun, aku yang gugup hanya mampu tersenyum kikuk untuk membalas sapaan cowok itu.
“Minggu depan dateng bareng gue ya?”
“Hah?! Ap—”
“Bye.”
Dan secepat cowok itu datang, secepat itu juga cowok itu pergi.
Aku masih bengong di tempatku. Memandangi Tomy yang kini sudah kembali bergabung bersama dua sahabat karibnya, Rio dan Daniel. Astaga! Ini bukan mimpi, ‘kan? Aku mencubit lenganku dan merasa sakit. Bukan mimpi. Kemudian memandang sekeliling, menyadari jika bukan hanya aku yang terbengong-bengong atas ajakan Tomy padaku tadi.
Aku buru-buru mengemasi bekalku dan pergi dari kantin, menuju kelas.
Sepanjang perjalanan, aku mengingat-ingat ajakan Tomy untuk pergi bareng ke pesta Promnight minggu depan. Dan tidak bisa dipungkiri aku merasa sangat senang, sekaligus was-was menanyakan apa yang akan terjadi padaku setelah ini. Setelah kejadian tadi, tidak mungkin ‘kan hatersku tidak bertambah?
Dan hal ini langsung terbukti bahkan sebelum aku memasuki kelas.
“SINI LO!!!”
Dengan tanpa aba-aba, Audira menarik rambutku kasar, menyeretku masuk ke dalam kelas, lalu mengempaskanku di depan seluruh anak-anak kelas 11-B.
“Lo apain Tomy sampe dia mau-maunya ngajak lo pergi bareng ke Prompt, hah?!”
Aku melihat tatapan Audira yang berkilat-kilat penuh amarah. Lalu dengan takut-takut aku menjawab, “S-sumpah, aku nggak apa-apain dia, Di.”
“Bohong! Lo sadar diri nggak sih?! Lo itu jelek. Jeleekkk. Mana mungkin Tomy mau ngajak lo kalo lo nggak ngapa-ngapain dia!! Jawab yang beneer!!!”
Audira semakin menarik rambutku kuat-kuat.
“Aku juga ng-nggak tahu, Di.”
“Lo masih juga bohong, hah?! Sa, ambil bekalnya lalu tumpahin ke tubuh cewek nggak tahu diri ini!”
“Jangan! Akh!”
Audira tidak memberikan aku kesempatan untuk melawan sama sekali. Cewek itu mencengkeram rambutku semakin kuat dan memberikan kesempatan pada Sasa, teman segengnya, untuk mengambil kotak bekalku yang masih sisa tiga perempat.
Aku memejamkan mata sambil menangis saat nasi goreng buatanku ditumpahkan ke sekujur tubuhku. Membuat bulir-bulir nasi goreng itu menempel. Di rambut, di wajah, di seragam, di tangan. Lalu aku mendengar suara tawa puas dari anak-anak sekelasku. Jahat.
Aku mengepalkan tanganku, sebelum akhirnya berlari ke luar kelas, menuju taman belakang. Menuju satu-satunya tempat yang bisa aku sukai dari sekolah ini. Namun, langkahku terhenti mendengar suara tawa dari beberapa cowok di tempat yang aku sukai itu. Diam-diam aku mengintip, melihat wajah Tomy, Rio dan Daniel yang sedang mengobrol sambil tertawa-tawa. Aku tidak sadar kalau aku menguping.
“Hahaha, Gila lo, Tom. Ternyata berani juga lo ngajak si cewek itu ke pesta bareng lo.”
“Ya. Terpaksa. Demi PSP terbaru, man.”
“Sekarang gimana lo dateng sama tu cewek. Lo pasti nggak mau kan gandengan sama cewek jelek?”
“Itu urusan nanti.”
Aku mengepalkan tangan lagi demi menahan amarah.
Bodoh. Kenapa sih aku lupa kalau cowok itu Tomy? Cowok yang pastinya tidak akan melirikku kalau bukan karena ada apa-apa.
• • •
Seminggu kemudian, setelah hari-hari yang melelahkan dan segala macam tindakan bullying terhadapku di sekolah, akhirnya hari ini datang juga. Aku menatap bayanganku di cermin besar yang menempel di dinding kamarku dengan ragu. Ragu karena wajah dan diriku masih tampak sama saja seperti hari-hari biasanya meski aku sudah bela-belain membeli dress mahal berwarna krem dan memakai sedikit riasan wajah. Rambutku masih dikepang dua. Kacamata jadul masih bertengger di hidungku. Dan yang terjelas, tompel besar di pipi kananku juga masih ada. Aku menarik napas. Sekarang baru aku sadari bahwa aku bukan hanya jelek, tetapi sangat-sangat jelek.
Aku melirik jam dinding di atas tempat tidur. Masih ada sepuluh menit lagi sebelum Tomy, yang katanya ingin menjemputku, sampai. Kemudian perhatianku teralih pada Romeo kucingku yang berjalan masuk dengan gaya malas sambil sesekali menguap. Kucing itu lalu mencari-cari tempat ternyaman untuk tidur. Matanya menatap nyalang seisi kamar. Sampai akhirnya pilihannya jatuh pada atas lemari baju.
Aku memperhatikannya memanjat ke tempat tidur, lalu melompat ke nakas, kemudian melompat lagi ke ... Ya ampun! Aku lupa kalau aku menaruh ‘benda-benda' koleksiku di lemari! Aku buru-buru bangkit dan mencegah Romeo untuk melompat lagi, namun terlambat! Kucing itu sudah menabrak tumpukan koleksiku dan membuat tumpukan ‘benda-benda' yang sengaja aku simpan rapi di dalam toples kaca itu berjatuhan dan pecah.
“Aduh!”
Aku menghampiri kekacauan itu, sedangkan Romeo sudah keburu lari ketakutan. Beruntung, aku masih mempunyai banyak toples untuk mengganti toples-toples yang pecah yang menjadi wadah untuk ‘benda-benda' koleksiku itu. Aku mengambil salah satu ‘benda itu' tanpa rasa jijik sama sekali. Seruas jari kelingking manusia yang di awetkan! Lalu memasukkannya lagi ke dalam toples yang baru, yang selalu aku taruh di bagian bawah lemari hiasku. Aku memandanginya sambil tersenyum takjub, takjub dengan benda itu yang menurutku sangat ‘indah'. Kemudian sebuah ide tiba-tiba melintas. Sepertinya, sedikit balas dendam tidak masalah, ya? Sekalian aku ingin mengganti ‘koleksi'ku yang rusak.
Aku menghampiri meja riasku lagi. Lalu dengan cekatan, melepas semua kepangan rambut yang selama 30 menit tadi aku buat, dan membiarkan rambut lurusku tergerai. Aku melepas kacamata jadulku dan menggantinya dengan lensa kontak. Kemudian terakhir, aku melepas ‘tompel bohongan' yang selama ini selalu membuatku susah.
Aku menatap bayanganku lagi di cermin kali ini disertai senyum puas.
“Sempurna,” gumamku.
Tepat sesaat kemudian, terdengarlah bunyi motor yang berhenti di depan rumah. Itu pasti Tomy. Buru-buru aku keluar sambil membawa tas dan menyambut cowok itu yang tampak terbengong-bengong saat melihat perubahanku. Aku tersenyum sangat manis.
“Lo ... Beneran si cewek cupu?” tanya Tomy yang sepertinya tidak percaya kalau ini benar aku.
“Natasha, nama aku Natasha.”
“Eh, iya. Lo beneran yang kemarin gue ajak, ‘kan?”
“Iya.”
“Gila. Lo cantik banget,” puji cowok itu tulus, dan aku tersenyum manis mendengarnya. “Makasih,” kataku.
Kemudian senyap menyelimut sesaat.
“Tapi ... Bisa nggak kamu jaga rahasia? Bilang kalau aku nggak bisa dateng ya? Bilang aja aku sepupu kamu atau apapun,” pintaku pada Tomy yang masih memandangku dengan takjub.
Cowok itu kontan bingung. “kenapa?”
Kenapa? Tanyaku pada diri sendiri. Alasan apa yang bisa aku berikan?
Aku terdiam selama beberapa detik sebelum menjawab, “Emm, aku ... aku malu,” kataku sangat lirih.
Aku melihat Tomy mengangguk-angguk setuju. “Oke deh. Sekarang, ayo berangkaaatt!!” cowok itu berteriak semangat sambil tersenyum yang membuatku sangat gemas.
• • •
Sepanjang pesta, sudah bisa dipastikan jika akulah yang menjadi pusat perhatian semua orang. Selain karena cowok di sebelahku adalah Tomy, mereka juga pasti sangat heran melihat cewek yang belum pernah mereka lihat sebelumnya ada di pesta. Sesekali aku melihat tatapan-tatapan iri dari cewek-cewek yang menjadi fansgirl Tomy dan dalam hati tersenyum penuh kemenangan.
Tomy, cowok itu benar-benar menepati janjinya. Cowok itu melindungi ‘sepupunya' dari tatapan-tatapan lapar para cowok yang menatapku penuh rasa ingin tahu.
“Gila! Cantik bener, broo.”
“Nemu dimana lo cewek secantik ini, hah? Ck, ck, ck.”
“Neng manis, kenalan dwong...”
“Minimal kasih tahu kitalah namanya, Tom.”
“Diem lo pada apa gue tendang!”
Begitulah. Aku diam-diam tertawa geli setiap mendengar percakapan antara Tomy dan teman-temannya itu, dan melihat keposesifan Tomy padaku. Aku benar-benar terlarut selama beberapa saat. Namun sekarang, waktunya aku melaksanakan ide yang sempat terlintas di otakku tadi.
Aku menarik ujung jas mahal Tomy pelan, membuat perhatian cowok itu otomatis teralih dan menatap kearahku dengan tatapan bertanya. “Kenapa?” tanya cowok itu halus, membuat aku tidak bisa menahan senyumku.
“Aku mau keluar, ya?” kataku meminta persetujuan.
Aku melihat Tomy mengangguk juga berkata, “Oke. Entar gue nyusul.”
Aku balas mengangguk. Lalu kemudian berlari meninggalkan aula sekolah yang menjadi tempat berlangsungnya pesta, menuju area parkir yang sepi. Aku melongok-longok melihat sekitarku dan memastikan bahwa tempat ini benar-benar sepi. Benar-benar tak ada seorangpun agar aku bisa melakukan rencanaku dengan mulus.
Aku berjalan menuju area paling gelap. Bersembunyi di antara mobil-mobil dan motor yang terparkir, di dalam bayangan pohon-pohon cemara dan pojokan tembok pembatas. Dan pelan-pelan, mengeluarkan benda yang selama ini aku sembunyikan di balik gaun kremku yang mahal. Sebuah belati yang mengkilat-kilat saking tajamnya. Dan pelan-pelan, aku tersenyum. Senyum yang keji.
Aku mulai mengingat-ingat perlakuan Tomy dan teman-temannya padaku yang membuatku sangat geram sebelumnya. Tentang cowok itu yang membohongiku. Tentang cowok itu yang menganggapku sebagai mainan belaka, sama seperti beberapa cowok lain yang dulu pernah mendekatiku dengan alasan yang sama. Tetapi tidak apa. Karena setelah itu, mereka akan membayarnya. Suka atau tidak suka.
Aku menyembunyikan belatiku di balik punggung melihat Tomy yang sudah datang. Cowok itu pasti kebingungan mencari-cariku, terlihat dari matanya yang melihat-lihat ke segala penjuru. Aku memastikan lagi bahwa tidak ada seorangpun yang mengikuti cowok itu, sebelum akhirnya aku berteriak memanggilnya.
“Disini!!” teriakku sambil melambai-lambaikan sebelah tangan.
Tomy menoleh, dan langsung heran melihat tempatku berada sekarang namun tetap menghampiriku juga, dengan menampilkan senyum manis favoritku, membuat perasaan gemasku seketika muncul lagi. Aku sangat suka senyumnya. Aku ingin memiliki senyum itu. A-ku i-ngin se-nyum itu.
Aku menunggu Tomy yang sedang berjuang untuk menghampiriku dengan sabar. Cowok itu tampak kesusahan melewati celah mobil-mobil dan motor yang terparkir mengingat tubuhnya yang tinggi dan besar. Sesekali aku melihatnya meringis saat tidak sengaja menyenggol kaca spion, membuat spion itu bergeser atau bahkan sampai ada yang patah. Aku kontan tertawa melihatnya. Hingga akhirnya cowok itu sampai tidak jauh di depanku.
Aku menggenggam belatiku semakin erat dan semakin erat, menyiapkan diri, kemudian berlari menuju ke arah Tomy dan memeluk cowok itu erat. Tanpa membuang kesempatan, sekaligus memanfaatkan waktu saat cowok itu masih kaget dengan pelukanku yang tiba-tiba, aku menikamkan belatiku ke dadanya. Aku menikamnya dalam-dalam, lalu mendongak, melihat wajah kesakitan cowok itu dengan seringai puas yang tidak bisa disembunyikan.
Lalu aku berkata lirih, “Aku suka senyum kamu. Sukaaa banget. Buat aku ya?”
Aku melihat wajah cowok itu yang terbelalak kaget dan ingin berteriak, namun aku keburu mencabut belatiku lalu menikamkannya lagi berkali-kali, hingga cowok itu jatuh melunglai di tanah dan kemudian benar-benar tidak bergerak.
Aku melihat bibirnya yang dipenuhi darah tanpa rasa jijik sama sekali, lalu tanpa pikir panjang, menyayat bibir itu dengan belatiku dan menaruhnya di dalam toples yang dari tadi aku bawa-bawa di dalam tas.
• • •

Komentar
Posting Komentar